
Melalui workshop bersama MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota dan Kabupaten Blitar, Pascasarjana UNISMA memperkuat kompetensi guru dalam mengintegrasikan kecerdasan artifisial pada perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen pembelajaran.
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Teknologi yang berkembang sangat cepat tersebut menghadirkan peluang baru bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan bermakna. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan kompetensi pedagogis agar teknologi benar-benar mendukung proses belajar, bukan menggantikan peran guru.
Semangat tersebut menjadi perhatian Kandidat Magister Mengabdi (KMM) Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui workshop bertajuk AI untuk Pembelajaran Mendalam: Transformasi Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Pembelajaran yang dilaksanakan di SMAN 1 Blitar, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh KMM Program Pascasarjana UNISMA bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota dan Kabupaten Blitar. Workshop yang dirancang selama 32 jam ini menjadi ruang penguatan kompetensi bagi guru Bahasa Indonesia dalam merespons perkembangan teknologi sekaligus mempertahankan orientasi utama pendidikan, yakni menghadirkan pembelajaran yang mendalam dan bermakna.
AI Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Instrumen Transformasi Pembelajaran
Pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan menggunakan aplikasi atau menghasilkan materi secara otomatis. Lebih jauh, guru perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kapan, mengapa, dan bagaimana AI digunakan agar selaras dengan tujuan pembelajaran.
Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, AI dapat membuka berbagai kemungkinan pengembangan pembelajaran. Guru dapat memanfaatkannya untuk mengeksplorasi ide pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, menyusun alternatif aktivitas, memberikan variasi teks, hingga mendukung perancangan asesmen.
Namun, seluruh proses tersebut tetap membutuhkan pertimbangan profesional guru.
Guru perlu memastikan bahwa pemanfaatan AI tidak mengurangi kesempatan peserta didik untuk membaca secara kritis, berpikir, berdiskusi, menulis, berargumentasi, dan menghasilkan karya secara mandiri. Dengan demikian, AI ditempatkan sebagai mitra teknologi yang memperkuat proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir guru maupun peserta didik.
Perspektif tersebut menjadi penting karena pembelajaran mendalam pada hakikatnya menuntut keterlibatan peserta didik dalam proses memahami, menghubungkan pengetahuan, melakukan refleksi, dan menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks yang relevan.
Memperkuat Kompetensi Guru di Tengah Transformasi Digital
Bagi guru Bahasa Indonesia, perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Kemudahan teknologi dalam menghasilkan informasi dan teks perlu diimbangi dengan kemampuan literasi digital, literasi informasi, serta keterampilan berpikir kritis.
Guru memiliki peran penting dalam membangun kemampuan tersebut.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan substansi keilmuan secara tepat.
Workshop KMM Pascasarjana UNISMA menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan perkembangan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis para guru di sekolah. Melalui kolaborasi tersebut, teknologi AI dapat dibahas tidak hanya dari sisi kecanggihannya, tetapi juga dari sisi kebutuhan pembelajaran dan tantangan nyata yang dihadapi pendidik.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Sri Wahyuni, M.Pd., Ita Lifana Ririd Wijayanti, S.Pd., Gr., dan Iwah Wahyudi, S.Pd., Gr.
Kehadiran para narasumber menjadi bagian dari upaya memberikan perspektif dan pengalaman yang relevan bagi peserta dalam memahami pemanfaatan AI untuk mendukung proses pembelajaran.
Dari Kampus untuk Penguatan Ekosistem Pendidikan
Kegiatan KMM tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan pendidikan di lapangan.
Kolaborasi Pascasarjana UNISMA dengan MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota dan Kabupaten Blitar memberikan ruang bagi terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Guru menghadirkan persoalan serta pengalaman pembelajaran yang nyata, sementara lingkungan akademik memberikan perspektif keilmuan dan pengembangan inovasi yang dapat menjadi alternatif solusi.
Model kolaborasi semacam ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan dunia pendidikan yang berlangsung cepat. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam membantu masyarakat menghadapi perubahan tersebut.
Bagi Pascasarjana UNISMA, kegiatan KMM menjadi salah satu bentuk aktualisasi peran akademisi dan mahasiswa dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya melalui penguatan kapasitas pendidik.
Menyiapkan Guru yang Adaptif dan Kolaboratif
Transformasi pendidikan berbasis AI pada akhirnya bukan semata-mata persoalan teknologi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bijak, kritis, etis, dan pedagogis.
Guru tetap menjadi aktor utama dalam menentukan arah pembelajaran. AI dapat membantu memperluas pilihan dan mempercepat proses tertentu, tetapi keputusan tentang tujuan pembelajaran, karakter peserta didik, strategi pembelajaran, serta kualitas asesmen tetap membutuhkan kompetensi dan pertimbangan profesional seorang guru.
Melalui kegiatan KMM ini, Pascasarjana UNISMA mendorong lahirnya pendidik yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu beradaptasi dan berinovasi tanpa kehilangan esensi pendidikan.
Kolaborasi dengan MGMP Bahasa Indonesia SMA Kota dan Kabupaten Blitar juga menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tidak dapat berjalan secara individual. Diperlukan ekosistem yang memungkinkan guru, sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas profesional untuk terus belajar dan berkembang bersama.
Pada akhirnya, pemanfaatan AI di ruang kelas bukan tentang menggantikan manusia dengan teknologi. AI justru perlu diarahkan untuk memperkuat peran guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam, relevan, dan bermakna bagi peserta didik.
Melalui semangat “Berkompeten, Berdaya Saing, Berkembang Bersama AI”, KMM Pascasarjana UNISMA diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan dalam membangun guru yang inovatif, adaptif, dan kolaboratif di tengah transformasi pendidikan.







