Seri Kuliah Cendekia Lintas Bangsa  Petualangan Kata dan Imajinasi dalam Cerita Anak:  Menempa Nilai, Mengasah Budi

Seri Kuliah Cendekia Lintas Bangsa Petualangan Kata dan Imajinasi dalam Cerita Anak: Menempa Nilai, Mengasah Budi

Kerjasama, Seminar Internasional, Seminar/Workshop/Simposium/Diklat

Malang, 25 Mei 2025 — Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Islam Malang menggelar Seri Kuliah Cendekia Lintas Bangsa, sebuah inisiatif akademik untuk membuka ruang dialog ilmiah antarbangsa berseri. Program ini merupakan salah satu strategi pencapaian visi keilmuan prodi, yakni mengembangkan pendidikan bahasa Indonesia yang inovatif, transformative, berwawasan global dan berlandaskan nilai Islami.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seri Kuliah Cendekia Lintas Bangsa kali ini menghadirkan narasumber istimewa, Prof. Madya Datin Nik Rafidah Nik Muhamad Affendi dari Universiti Putra Malaysia, seorang pakar sastra anak dan studi budaya Melayu, yang akan membawakan kuliah bertajuk:
Petualangan Kata dan Imajinasi dalam Cerita Anak: Menempa Nilai, Mengasah Budi.

Kuliah dari dosen tamu ini mengulas pentingnya literasi imajinatif dalam pembentukan karakter anak melalui cerita, serta bagaimana sastra anak menjadi jembatan antara dunia nilai dan kreativitas. Diskusi ini tidak hanya menggali aspek pedagogis, tetapi juga menyoroti peran budaya lokal dan kearifan dalam membangun literasi berbasis nilai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Acara ini terbuka bagi mahasiswa dan dosen prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S-1) dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (S-2), serta praktisi pendidikan, dan pegiat sastra yang tertarik pada bidang literasi anak, pendidikan karakter, dan pengembangan narasi berbasis budaya.

Prof. Dr. Dyah Werdiningsih, M.Pd. Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana UNISMA menjelaskan bahwa aktivitas ini akan ditindaklanjuti dengan bengkel penulisan sastra anak, sebagai ruang kolaboratif lintas negara bagi mahasiswa dan dosen untuk mengasah keterampilan menulis cerita anak berbasis nilai dan budaya lokal. Bengkel penulisan sastra ini akan difasilitasi oleh dosen tamu bersama tim dosen Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UNISMA, serta dirancang sebagai upaya nyata dalam membangun literasi karakter melalui karya sastra.

Para peserta tampak antusias mengikuti kuliah ini. Dalam sesi tanya jawab, banyak peserta menyampaikan ketertarikan mereka untuk memperdalam praktik penulisan sastra anak yang berakar pada kearifan lokal. Sejumlah mahasiswa bahkan menyatakan minat untuk mengembangkan proyek literasi kreatif di bawah bimbingan Prof. Madya Datin Nik Rafidah, dan prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia akah menindaklanjuti aktivitas kolaboratif lanjutan dengan Universiti Putra Malaysia (UPM).

Dengan semangat kebersamaan dan visi global, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi prodi dalam pengembangan literasi anak berbasis budaya dan nilai, sekaligus membuka jalan bagi jejaring akademik antarbangsa yang lebih erat dan berkelanjutan.

BAHASA INDONESIA LAYAK MENJADI BAHASA INTERNASIONAL

Seminar Internasional
 6seminter unisma-editMalang. Senin, 28/9/20015 Universitas Islam Malang, melalui program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana dan Program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unisma menggelar seminar internasional bahasa Indonesia dengan judul “Memperkokoh Posisi Bahasa Indonesia melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya. Acara seminar internasional hari pertama tersebut menghadirkan Prof. Kacung Marijan, P.hD, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Mahsun, P.hD, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Kyoko Funada, guru besar bahasa Indonesia dari Kanda University of International Studies, dan Dr. Widodo HS, dari Asosiasi pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

Prof Kacung Marijan, P.hD dalam sambutannya menyatakan upaya diplomasi budaya untuk memperkokoh bahasa Indonesia amat penting untuk dilakukan. “Soft diplomacy banyak dilakukan oleh negara-negara seperti Amerika Serikat, contohnya melalui film Hollywood, dan gaya hidup. Demikian juga dengan Korea Selatan misalnya, melalui Kpopnya.” Terangnya.Dirjen Kebudayaan tersebutkan menggarisbawahi bahwa salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerjemahkan banyak buku sastra Indonesia yang akan dibawa ke Frankfurt Book Fair, awal Oktober nanti. “Indonesia adalah tamu kehormatan tahun ini di festival buku terbesar dunia tersebut.”

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. Mahsun menandaskan agar bahasa Indonesia yang sudah memiliki 100 ribu lebih kosa kata yang dibakukan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) terus memingkatkan jumlah kosa katanya. “Bahasa Indonesia berkembang berbeda dengan bahasa Melayu, maka mari kita percaya diri untuk mengantarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar untuk tingkat Asean.” Prof.Mahsun juga mengingatkan agar bahasa Indonesia memantapkan diri sebagai bahasa yang sudah mapan.. “Dua indikator standarnya adalah, pertama memiliki standar pembelajaran (evaluasi) dan mampu menahan laju pertumbuhan dialek baru.”

Prof Kyoko Funada menyatakan bahwa upaya menginternasionalkan bahasa Indonesia juga didukung oleh Jepang. “Dari 730 universitas yang ada di Jepang, 75 diantaranya memiliki program studi bahasa Indonesia.” Artinya bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang diminati banyak kalangan di Jepang. Dr. Widodo HS yang menyampaikan pemikirannya tentang BIPA. “Dengan berembangnya pengajaran BIPA, maka sudah layak BIPA menjadi satu program studi.” Program studi BIPA bisa digunakan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat posisi bahasa Indonsia sebagai bahasa internasional.

Dalam pidatonya, rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si mengatakan bahwa Unisma akan terus mengupayakan agar bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional. “Melalui smeinar ini gagasan dan kebijakan strategis tentang bahasa Indonesia yang akan menelurkan rekomendasi yang akan dikirimkan ke pihak terkait agar bisa ditindaklanjuti.” Terangnya. Acara seminar internasional tersebut diikuti oleh 250 peserta dari tujuh negara yakni, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Myanmar, Amerika Serikat, dan Kanada. Seminar yang berlangsung di hall Usman Mansur dan hall lantai tujuh gedung B Unisam tersebut akan berlangsung hingga besok, Selasa, 29 September 2015. (faiq/endang).